Bedah Buku Kembara Pikiran Karya Pater Fritz Meko di Surabaya
Sumber Foto: HARIAN DISWAY
Catatan Harian

Bedah Buku Kembara Pikiran Karya Pater Fritz Meko di Surabaya

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Hujan rintik menemani senja di langit Surabaya pada Jumat, 21 November 2025. Di Auditorium Benedictus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), sebuah acara bedah buku berlangsung dengan penuh khidmat, menampilkan karya terbaru Pater Dr. Fritz Meko, SVD, berjudul Kembara Pikiran.

Buku ini, yang oleh Pater Fritz disebut sebagai catatan harian, membawa para pembacanya dalam sebuah perjalanan batin. Karya ini tidak hanya menggambarkan pengalaman seorang imam Katolik, tetapi juga berfungsi sebagai jendela yang membuka pandangan ke dalam hati dan pikiran seorang pastor.

Pater Fritz menggambarkan bahwa kehidupan spiritualnya tidak hanya diwarnai oleh doa semata. Ia juga menekankan pentingnya merenung, menulis, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Dalam suasana yang damai, musik lembut yang dibawakan oleh Jimmy Charles dan Wempy Mukin mengalun perlahan, menciptakan harmoni yang mendukung audiens untuk menyelami lebih dalam pemikiran seorang pastor.

“Setiap butiran pikiran yang tercecer, jika dibukukan, akan menjadi hadiah,” ungkap Pater Fritz dalam acara yang juga merupakan syukuran untuk merayakan 150 tahun karya misi Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) di Indonesia. Bedah buku ini sekaligus menandai 100 tahun kehadiran Biara Soverdi Surabaya, dua tonggak sejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan spiritual, intelektual, dan budaya umat Katolik, termasuk Pater Fritz.

Dalam penyampaian yang lembut namun tegas, Pater Fritz berbagi cerita tentang berbagai momen sederhana, seperti pagi yang dingin, percakapan di warung kopi, tawa anak kecil, serta rasa bersalah setelah kemarahan. Ia juga mengajak pembaca untuk menghargai keindahan senja yang sering kali terabaikan.

Pater Fritz tidak terjebak dalam diskusi teologi yang rumit atau dogma yang abstrak. Sebaliknya, ia mengajak audiens untuk menciptakan jeda-hening, di mana dalam keheningan tersebut, manusia dapat menemukan makna di balik setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka.