Ramadhan: Waktu untuk Peningkatan Diri di Tengah Krisis Global
RRI.CO.ID, Bone — Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum penting untuk melakukan perubahan diri di tengah berbagai tantangan global. Hal ini disampaikan Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Dr. Muhammad Asriady, M.Th.I., yang menilai bulan suci ini sebagai “madrasah perubahan” untuk meningkatkan kualitas pribadi.
Menurut Muhammad Asriady, Ramadhan merupakan Syahrul Tarbiyah atau bulan pendidikan yang mendorong setiap individu melakukan peningkatan kompetensi diri agar menjadi pribadi yang lebih tangguh dan paripurna. Ia menjelaskan, momentum Ramadhan harus dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas spiritual sekaligus kapasitas diri dalam menghadapi dinamika zaman.
“Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, tetapi momentum upgrading diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih kuat menghadapi tantangan zaman,” ujarnya Pada Kamis, 5 Maret 2026.
Ia juga mengutip nasihat Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang menyebut Ramadhan sebagai laboratorium peningkatan kualitas diri untuk semakin taat kepada Allah SWT. Melalui berbagai ibadah yang dilakukan selama bulan suci, umat Islam diajak untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta sekaligus memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam perspektif manajemen modern, Asriady menjelaskan bahwa Ramadhan sejalan dengan konsep continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan. Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa seseorang yang hari ini lebih baik dari kemarin termasuk orang yang beruntung.
“Dalam hadis disebutkan, siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka ia termasuk orang beruntung. Ramadhan memberi ruang bagi kita untuk memperbaiki diri secara terus-menerus,” jelasnya.
Ia menambahkan, secara ilmiah puasa juga memberikan dampak positif bagi perkembangan otak. Dalam kajian neurosains, puasa dapat memicu neuroplasticity, yakni kemampuan otak membentuk koneksi baru sehingga menjadi waktu yang tepat untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan membangun kebiasaan baik.
Muhammad Asriady juga mengajak berbagai elemen masyarakat memaknai Ramadhan sesuai peran masing-masing. Santri dan pelajar diharapkan meningkatkan semangat belajar sebagai bentuk ibadah, guru didorong menjadi lebih inovatif dalam mendidik, sementara pejabat diingatkan agar menjadikan jabatan sebagai amanah.
“Jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Nabi mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya,” katanya.
Di tengah situasi dunia yang diliputi krisis ekonomi dan konflik antarnegara, ia menilai nilai-nilai Ramadhan seperti menahan diri dan hidup sederhana dapat menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk membangun ketahanan mental dan ekonomi.
“Puasa mengajarkan kita menunda kesenangan atau delayed gratification. Sikap ini melatih kedisiplinan finansial dan mental agar lebih siap menghadapi krisis global,” ungkapnya.




