Pertumbuhan Ekonomi Syariah Terus Meningkat, Namun Pangsa Pasar Perbankan Masih Stagnan
Sumber Foto: UMY
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Syariah Terus Meningkat, Namun Pangsa Pasar Perbankan Masih Stagnan

09:32

Geliat ekonomi syariah dan perkembangan industri halal menunjukkan tren positif di Indonesia. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada kinerja perbankan syariah. Selama hampir dua dekade terakhir, pangsa pasar perbankan syariah nasional tercatat masih bertahan di kisaran satu digit, meskipun aset dan jumlah nasabah terus mengalami pertumbuhan.

Hal ini disampaikan oleh ekonom syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph.D. Ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi syariah sejauh ini belum diikuti oleh penguatan struktur industri perbankan syariah secara signifikan.

“Ekonomi syariah memang tumbuh, tetapi secara struktural perbankan syariah masih menghadapi keterbatasan. Pangsa pasarnya stagnan di kisaran 7–8 persen dan relatif sulit menembus dua digit tanpa perubahan mendasar,” ujar Dimas.

Dalam Diskusi Panel Outlook Ekonomi Indonesia 2026 yang digelar pada Selasa (30/12), Dimas menjelaskan bahwa stagnasi tersebut tidak terlepas dari karakter pembiayaan perbankan syariah yang masih didominasi sektor ritel dan konsumtif. Sementara itu, keterlibatan dalam pembiayaan korporasi berskala besar dinilai masih terbatas, sehingga ruang ekspansi pasar menjadi sempit.

Di sisi lain, literasi keuangan syariah dan inovasi produk juga dinilai belum berkembang secepat sektor keuangan konvensional. Kondisi ini membuat daya tarik perbankan syariah belum optimal bagi segmen pasar yang lebih luas.

Dimas juga menyoroti dinamika Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah yang dalam beberapa tahun terakhir turut dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Pengetatan kebijakan moneter, persaingan tingkat imbal hasil, serta perubahan perilaku masyarakat pascapandemi mendorong fluktuasi likuiditas. Menurutnya, fenomena ini tidak hanya dialami perbankan syariah, tetapi juga sektor perbankan nasional secara umum.

Meski demikian, ia melihat peluang besar pada industri halal yang terus berkembang dan berpotensi menjadi motor penggerak utama ekonomi syariah nasional. Dengan nilai ekonomi yang semakin meningkat, sektor ini dinilai mampu menjadi penghubung strategis antara sektor riil dan keuangan syariah.

“Industri halal adalah titik terang. Tantangannya adalah bagaimana perbankan syariah bisa lebih terintegrasi dengan sektor ini agar pertumbuhan tidak berjalan sendiri-sendiri,” jelasnya.

Baca juga : Bijak Kelola Uang di Era Digital, Ini Pesan Pakar Ekonomi Syariah UMY

Untuk memperkuat peran perbankan syariah, Dimas mendorong perlunya lompatan struktural melalui konsolidasi industri, pendalaman pasar, serta pengembangan inovasi produk yang lebih beragam. Langkah tersebut antara lain mencakup pembiayaan korporasi, perdagangan internasional, hingga penguatan layanan berbasis digital.

Tanpa transformasi tersebut, ia menilai sulit bagi perbankan syariah untuk meningkatkan pangsa pasarnya secara signifikan dalam jangka pendek. Karena itu, diperlukan kebijakan yang tidak hanya mendorong stabilitas dan keberlanjutan likuiditas, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara keuangan syariah dan agenda pembangunan nasional. (ID)

SDGs 8