Menlu Sugiono Jamin Keamanan dan Kesejahteraan Pasukan TNI dalam Misi ISF
Sumber Foto: Liputan6.com
Sosial

Menlu Sugiono Jamin Keamanan dan Kesejahteraan Pasukan TNI dalam Misi ISF

Menlu Sugiono juga menyampaikan adanya sejumlah risiko dan tantangan yang akan dihadapi oleh pasukan Indonesia sebagai bagian dari ISF.

Oleh Teddy Tri Setio Berty

Diterbitkan 21 Februari 2026, 09:31 WIB

Share

Copy Link

Batalkan

Perbesar

Tanya apapun tentang artikel ini...

Cari

Paling sering ditanyakan

Apa jaminan pemerintah Indonesia terkait pasukan TNI di misi ISF?

Siapa yang menyampaikan jaminan keamanan pasukan TNI di misi ISF?

Apa yang ditekankan Menlu Sugiono terkait risiko operasi militer?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Washington D.C - Pemerintah Indonesia menjamin keamanan dan kesejahteraan pasukan TNI yang akan ditugaskan dalam misi The International Stabilization Force (ISF).

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Sugiono saat memberikan keterangan kepada media di Four Seasons, Washington D.C, Jumat (20/2/2026) pukul 13.28 waktu setempat.

BACA JUGA: Prabowo Targetkan 17 Gigawatt PLTS Bisa Terbangun pada 2026 Ini

BACA JUGA: Mendikdasmen: 71.744 Sekolah di Indonesia Direvitalisasi pada 2026 Ini

BACA JUGA: Gempa Hari Ini Selasa 21 April 2026, Terjadi Empat Kali Menggetarkan Indonesia

Menanggapi pertanyaan mengenai kesejahteraan pasukan, Menlu Sugiono menegaskan, negara bertanggung jawab penuh terhadap prajurit yang dikirim dalam misi penjagaan perdamaian tersebut.

Advertisement

"Kesejahteraan pasukan yang kita ngirim ya pasti kita jamin," ujar Menlu Sugiono dalam press briefing terkait keikutsertaan Indonesia di KTT Board of Peace, yang turut diliput langsung oleh jurnalis Liputan6.com Teddy Tri Setio Berty.

Ia sekaligus memastikan aspek kesejahteraan sosial prajurit sudah memiliki standar tersendiri dalam operasi penjagaan perdamaian.

"Kesejahteraan sosial ya, kesejahteraan prajurit sebagai penjaga perdamaian kan sudah ada indeksnya juga," katanya.

Meski demikian, Menlu Sugiono mengakui bahwa setiap operasi militer tetap memiliki risiko.

"Kalau namanya operasi, operasi tentara ya tentu saja ada risiko," ucapnya.

Menurut dia, dalam forum sebelumnya juga telah disampaikan berbagai tantangan yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan misi tersebut. Karena itu, ia menekankan pentingnya mandat yang jelas serta aturan pelibatan atau rule of engagement yang tegas.

"Dan juga kemarin kan disampaikan ada tantangan-tantangan yang kita hadapi; makanya kita perlu suatu mandat yang jelas pertama; kemudian rule of engagement yang jelas; karena kita juga tidak mau prajurit kita jadi korban di luar misi yang sedang dilaksanakan," tegas Menlu Sugiono.

Keberadaan Indonesia dalam struktur board of peace serta posisinya sebagai Deputy Commander bidang Operasi diyakini akan memperkuat upaya perlindungan terhadap prajurit di lapangan.

"Dan saya kira itu yang menjadi tanggung jawab kita semua; dan keberadaan kita di board of peace, kemudian keberadaan kita sebagai deputy commander operasi, saya kira akan memperbesar keyakinan dan kemungkinan bahwa keamanan prajurit itu tetap bisa jadi yang utama," ujarnya.

Menlu Sugiono menekankan jaminan keamanan dan kesejahteraan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam setiap penugasan pasukan di luar negeri, termasuk dalam misi ISF.

Lima Negara Kirim Pasukan

Pasukan stabilisasi untuk Gaza atau International Stabilization Force (ISF) mengumumkan lima negara pertama anggota Dewan Perdamaian Gaza(Board of Peace/BoP) yang mengirimkan pasukan perdamaian ke jalur Gaza.

Salah satunya adalah Indonesia. Namun,dari daftar lima negara yang menyatakan bakal mengirim pasukannya, tidak ada nama Amerika Serikat.

"Saya dengan gembira mengumumkan bahwa lima negara pertama yang akan mengirim personel untuk bertugas dalam ISF yaitu Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania,” ucap Panglima ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers dalam pertemuan perdana tingkat kepala negara Dewan Perdamaian di Washington DC, Kamis pagi waktu setempat. Dilansir Jumat (20/2/2026).

Sebagaimana dipantau melalui siaran daring Gedung Putih di Jakarta, Kamis malam, Jeffers juga mengungkapkan, Mesir dan Yordania adalah dua negara anggota Dewan Perdamaian yang bersedia memberikan pembinaan bagi pasukan kepolisian Gaza yang akan dibentuk.

Panglima ISF mengatakan badan stabilisasi itu memiliki dua tujuan, yaitu memastikan terjaganya keamanan dan stabilitas Gaza serta memastikan dapat terbentuknya pemerintahan sipil di wilayah Palestina tersebut.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengapresiasi Indonesia atas keputusannya untuk berkontribusi mengirimkan personel militer untuk menjaga gencatan senjata di Jalur Gaza.

"Sejumlah negara menjanjikan personel untuk membantu menjaga gencatan senjata dan memastikan perdamaian yang berkelanjutan ... khususnya kepada Indonesia, terima kasih banyak Indonesia, negara besar, terima kasih lagi,” kata Trump kepada Presiden RI Prabowo Subianto.

Penempatan di Lima Sektor

Tim ahli militer telah bekerja secara langsung dari sebuah pusat operasi bersama yang akan menjadi markas ISF. Menurut rencana, personel ISF akan dibagi ke dalam lima sektor di Jalur Gaza, masing-masing sektor akan mendapatkan satu brigade ISF.

Menurut pemaparan yang ditampilkan, kelima sektor itu ialah Rafah, Khan Younis, Deir al Balah, Gaza City, dan Gaza Utara.

Dalam waktu dekat, personel ISF akan diterjunkan di wilayah Rafah di Gaza selatan, dan dari situ ISF secara berangsur akan melanjutkan operasinya ke wilayah utara Gaza. Pembinaan pasukan kepolisian juga akan dilakukan di waktu yang sama.

Mayjen Jeffers mengatakan dalam jangka panjang, pihaknya memperkirakan adanya 20.000 personel ISF dan 12.000 personel kepolisian untuk Jalur Gaza.

"Dengan langkah-langkah awal ini, kami akan mewujudkan keamanan yang diperlukan Gaza untuk masa depannya yang sejahtera dan perdamaian yang berkelanjutan,” kata Jeffers.

Indonesia

Menlu Sugiono

ISF

board of peace

Gaza

Advertisement

Teddy Tri Setio BertyTim Redaksi

Share

Copy Link

Batalkan