Krisis Chip Memori Picu Kenaikan Harga Smartphone Global 14%
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Krisis Chip Memori Picu Kenaikan Harga Smartphone Global 14%

JAKARTA, KOMPAS.com - Lonjakan permintaan chip memori yang dipicu perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengguncang industri smartphone global.

Kekurangan komponen memori disebut memberi “guncangan seperti tsunami” bagi produsen ponsel, yang berujung pada kenaikan harga perangkat dan penurunan penjualan secara signifikan.

Dikutip dari CNN, Selasa (3/3/2026), laporan dari perusahaan riset teknologi yang berbasis di Boston, AS, International Data Corporation (IDC), menyebut krisis pasokan chip memori diperkirakan akan membuat harga smartphone mencapai rekor tertinggi pada tahun ini, sekaligus menekan kinerja industri secara keseluruhan.

Lihat Foto

Menurut laporan tersebut, kelangkaan komponen memori yang semakin parah berpotensi membuat sebagian produsen ponsel tersingkir dari pasar dan membuat harga perangkat menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

“Apa yang kita saksikan bukan sekadar tekanan sementara, tetapi guncangan seperti tsunami yang berasal dari rantai pasokan memori, dengan efek riak yang menyebar ke seluruh industri elektronik konsumen,” ujar Francisco Jeronimo, yang memimpin riset perangkat seluler di IDC, dalam laporannya.

Harga smartphone diproyeksikan tembus rekor baru

Dalam laporan itu, IDC memperkirakan harga jual rata-rata smartphone secara global akan naik sekitar 14 persen pada 2026. Kenaikan tersebut diproyeksikan mendorong harga rata-rata smartphone menjadi 523 dollar AS.

Dengan asumsi kurs Rp 16.881 per dollar AS, angka tersebut setara sekitar Rp 8,82 juta per unit.

Lihat Foto

Kenaikan harga ini diperkirakan akan mendorong rata-rata harga smartphone ke level tertinggi sepanjang sejarah industri tersebut.

Selain itu, IDC juga memproyeksikan produsen ponsel tidak lagi mampu memproduksi smartphone dengan harga di bawah 100 dollar AS.

Jika dikonversikan menggunakan kurs yang sama, batas harga tersebut setara sekitar Rp 1,69 juta per unit.

Kondisi ini menandai perubahan besar di pasar smartphone global, yang selama bertahun-tahun masih menawarkan berbagai perangkat dengan harga sangat terjangkau.

Di sisi lain, laporan tersebut juga memperkirakan penjualan smartphone global akan mengalami penurunan tajam pada tahun ini.

IDC memproyeksikan penjualan smartphone pada 2026 akan turun sekitar 12,9 persen menjadi 1,12 miliar unit. Angka ini menjadi level terendah dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Penurunan tersebut terjadi di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat serta pergeseran prioritas industri semikonduktor yang semakin berfokus pada kebutuhan teknologi AI.

Ledakan AI mengubah arah industri chip

Krisis semikonduktor yang terjadi saat ini memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kekurangan chip yang pernah terjadi sebelumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, chip memori sebenarnya dianggap sebagai bisnis yang relatif stabil, dengan margin keuntungan yang lebih tipis dibandingkan chip pemrosesan berteknologi tinggi yang digunakan dalam komputer.

Namun situasi tersebut berubah drastis setelah perkembangan AI mendorong kebutuhan komputasi dan penyimpanan data dalam skala sangat besar.

Gelombang pembangunan pusat data (data center) untuk mendukung sistem AI memicu lonjakan permintaan terhadap chip memori, yang menjadi komponen penting dalam proses pengolahan dan penyimpanan data.

Permintaan yang meningkat tajam membuat produsen chip memori terbesar di dunia, terutama di Asia, mengalihkan fokus produksi mereka untuk memenuhi kebutuhan industri AI.