IHSG Turun 0,44% Dipicu Tekanan Saham Perbankan Pasca Keputusan BI
Sumber Foto: fxstreet-id.com
Ekonomi

IHSG Turun 0,44% Dipicu Tekanan Saham Perbankan Pasca Keputusan BI

IHSG ditutup turun ke 8.274, bergerak dalam rentang 8.251-8.376

Sektor basic, transportasi, dan energi menguat; perbankan terkoreksi.

BI pertahankan suku bunga, kesepakatan bisnis RI-AS US$38,4 miliar topang sentimen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, terkoreksi 0,44% atau 36 poin ke level 8.274 dari posisi sebelumnya 8.310. Sepanjang sesi, indeks sempat dibuka di 8.357 dan menyentuh level tertinggi 8.376 sebelum akhirnya tertekan ke area terendah 8.251. Pergerakan ini memperlihatkan kecenderungan konsolidatif yang masih bertahan sejak jatuh tajam pada akhir Januari.

Secara sektoral, dinamika pasar menunjukkan rotasi yang tidak merata. Indeks sektor bahan baku (IDXBASIC) melonjak 2,86% ke 2.393, diikuti sektor transportasi (IDXTRANS) yang naik 1,92% ke 2.238, serta sektor energi (IDXENERGY) yang menguat 0,82% ke 4.341. Kenaikan di sektor-sektor berbasis komoditas dan mobilitas ini mengindikasikan adanya minat selektif pada saham yang sensitif terhadap siklus ekonomi.

Di sisi lain, tekanan datang dari kelompok perbankan dan saham berbasis tata kelola berkelanjutan. INFOBANK15 turun 1,74% ke 1.017 dan PRIMBANK10 melemah 1,93% ke 182, sementara indeks ESGQKEHATI terkoreksi 1,18% ke 127. Pelemahan pada saham-saham keuangan berkapitalisasi besar membatasi peluang IHSG untuk mempertahankan penguatan dalam perdagangan harian.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Februari 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate di 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%. Bank sentral menegaskan fokus pada stabilitas nilai tukar Rupiah dan pengendalian inflasi dalam kisaran 2,5±1% pada 2026-2027, seraya tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Data domestik menunjukkan ketahanan ekonomi. Dalam laporannya BI menyebutkan bahwa Produk domestik bruto kuartal IV 2025 tumbuh 5,39% secara tahunan, meningkat dari 5,04% pada kuartal sebelumnya. Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% (yoy), masih dalam kisaran terkendali, sementara kredit perbankan tumbuh 9,96% (yoy), menandakan aktivitas pembiayaan yang tetap kuat.

Di pasar valuta asing, Rupiah diperdagangkan di kisaran 16.850-16.950 per dolar AS, mendekati level terendah bulan lalu di 16.987 dan melemah sekitar 1,20% dibanding akhir Januari. Bank Indonesia menyatakan nilai tukar saat ini masih di bawah fundamental ekonomi, di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan valas korporasi.

Sentimen eksternal turut dipengaruhi kesepakatan bisnis Indonesia-Amerika Serikat senilai US$38,4 miliar yang diteken dalam agenda di Washington, bertepatan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto menjelang penandatanganan perjanjian dagang bilateral dengan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan mencakup sektor pertambangan, energi, agribisnis, tekstil, furnitur, hingga teknologi, termasuk proyek patungan semikonduktor hampir US$4,9 miliar dan kemitraan mineral kritis antara Freeport-McMoRan dan Kementerian Investasi.

Nilai komitmen tersebut melampaui estimasi awal US-ASEAN Business Council sekitar US$7 miliar. Pelaku pasar menilai kesepakatan ini berpotensi menopang sentimen pada sektor sumber daya dan manufaktur, meski realisasinya masih perlu waktu.

Di Amerika Serikat, risalah rapat Federal Reserve Januari menunjukkan perbedaan pandangan terkait waktu pemangkasan suku bunga. Beberapa pejabat membuka ruang pelonggaran jika inflasi terus mereda, sementara lainnya mengingatkan risiko bertindak terlalu cepat. Data ekonomi AS yang kuat, termasuk produksi industri dan manufaktur, membantu dolar mempertahankan penguatan. Danske Bank menilai risalah tersebut bernada sedikit hawkish dan memprakirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Maret sebelum memangkasnya pada Juni dan September.