Debut Thomas Djiwandono di BI: Penegasan Ketahanan Perbankan dan Sinergi dengan Pemerintah
Sumber Foto: Kabarnusantara.id
Ekonomi

Debut Thomas Djiwandono di BI: Penegasan Ketahanan Perbankan dan Sinergi dengan Pemerintah

Jakarta – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono tampil perdana dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Kemunculan ini menjadi sorotan karena menandai debutnya secara resmi setelah dilantik oleh Mahkamah Agung (MA) pada 9 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Djiwandono memberikan penegasan mengenai ketahanan likuiditas dan permodalan perbankan serta kelanjutan sinergi erat antara BI dengan pemerintah dalam membangun kepercayaan investor dan lembaga pemeringkat kredit.

Kehadiran Djiwandono memberikan warna baru dalam penyampaian hasil RDG BI. Setelah Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan poin-poin utama kebijakan, Djiwandono menambahkan perspektif dan penekanan yang memperkuat narasi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Fokus utama Djiwandono adalah meyakinkan publik dan pelaku pasar mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang solid, khususnya di sektor perbankan dan dalam kerjasama erat dengan pemerintah.

Dalam penjelasannya, Djiwandono secara tegas menyatakan bahwa ketahanan likuiditas dan permodalan perbankan Indonesia berada dalam kondisi yang kuat. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan didasarkan pada hasil liquidity stress test yang dilakukan oleh Departemen Surveilans Makroprudensial, Moneter dan Market (DMSS) BI. Stress test ini dirancang untuk mengukur kemampuan perbankan dalam menghadapi berbagai tekanan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari eksternal.

"Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Gubernur tadi, ketahanan likuiditas dan permodalan perbankan tetap kuat," ujar Djiwandono dalam konferensi pers virtual tersebut. "Hasil stress test itu juga menunjukkan ketahanan perbankan terhadap skenario tekanan eksternal," tambahnya.

Pernyataan ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan pelaku pasar terhadap sistem keuangan Indonesia. Dalam kondisi ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian, keyakinan terhadap ketahanan perbankan menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Jika masyarakat dan investor merasa yakin bahwa perbankan mampu menghadapi berbagai guncangan, maka mereka akan cenderung untuk terus berinvestasi dan menyimpan dana di bank, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut, Djiwandono menekankan pentingnya sinergi yang berkelanjutan dan bahkan diperluas antara BI dan pemerintah. Sinergi ini bukan hanya sekadar koordinasi, tetapi juga kolaborasi strategis dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan ekonomi yang terpadu. Tujuan utama dari sinergi ini adalah untuk membangun kepercayaan dari investor dan lembaga pemeringkat kredit terhadap prospek ekonomi Indonesia.

"Selain dari kebijakan-kebijakan yang sudah dijelaskan oleh Bapak Gubernur tadi, saat ini kami juga sedang mempersiapkan koordinasi lebih lanjut dalam hal ini dengan Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, Danantara dan bahkan OJK ke depannya untuk membangun sebuah narasi yang terpadu mengenai pertumbuhan ekonomi tadi yang bisa dikhususkan terhadap investor maupun credit rating agency yang akan datang di kemudian hari," jelas Djiwandono.

Pernyataan ini menunjukkan komitmen BI untuk bekerja sama secara erat dengan berbagai pihak terkait dalam upaya meningkatkan citra Indonesia di mata investor dan lembaga pemeringkat kredit. Narasi yang terpadu dan meyakinkan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi daya tarik utama bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu, peningkatan peringkat kredit dari lembaga pemeringkat kredit akan menurunkan biaya pinjaman bagi pemerintah dan korporasi Indonesia di pasar internasional.

Kehadiran Djiwandono dalam RDG BI ini juga memiliki makna simbolis. Sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto, Djiwandono membawa legitimasi politik yang kuat ke dalam kebijakan-kebijakan BI. Hal ini dapat memperkuat kepercayaan pasar terhadap independensi BI dan kemampuannya untuk menjalankan kebijakan moneter yang optimal.

Meskipun baru pertama kali hadir dalam RDG BI sebagai Deputi Gubernur, Djiwandono bukanlah orang baru di lingkungan BI. Sebelumnya, ia telah dua kali menghadiri RDG BI saat masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Saat itu, ia ditugaskan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mewakili pemerintah dalam forum tersebut. Pengalaman ini memberikan Djiwandono pemahaman yang mendalam mengenai kebijakan moneter dan dinamika ekonomi Indonesia.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang mumpuni, Djiwandono diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi BI dalam menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Fokusnya pada ketahanan perbankan dan sinergi dengan pemerintah merupakan langkah yang tepat untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

Secara keseluruhan, debut Thomas Djiwandono di RDG BI memberikan sinyal positif bagi pasar dan masyarakat. Penegasannya mengenai ketahanan perbankan dan komitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah menunjukkan keseriusan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang inklusif. Kehadirannya diharapkan dapat membawa energi baru dan perspektif yang segar dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia.

Langkah-langkah konkret yang akan diambil BI dalam waktu dekat akan menjadi penentu utama keberhasilan Djiwandono dalam mengemban tugas barunya. Pasar dan masyarakat akan terus mengawasi perkembangan kebijakan BI dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Namun, dengan pengalaman dan komitmen yang dimilikinya, Djiwandono diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Ke depan, tantangan yang dihadapi BI tidaklah ringan. Ekonomi global masih dibayangi oleh ketidakpastian, seperti inflasi global yang tinggi, suku bunga yang meningkat, dan perang di Ukraina. Selain itu, Indonesia juga menghadapi tantangan internal, seperti ketimpangan ekonomi dan perlunya meningkatkan daya saing.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, BI perlu terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kebijakan moneter yang efektif dan responsif sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Sinergi yang kuat dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait juga menjadi kunci keberhasilan BI dalam mencapai tujuannya.

Dengan kepemimpinan yang kuat dan kebijakan yang tepat, BI diharapkan dapat terus menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang inklusif, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Kehadiran Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mewujudkan visi tersebut.