BRI: Pertumbuhan Kredit Lesu, Namun Perbankan Tetap Solid
Kredit industri perbankan jadi sorotan Direktur Utama BRI Hery Gunardi.
Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana
Diterbitkan 19 Februari 2026, 22:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Perbesar
Tanya apapun tentang artikel ini...
Cari
Paling sering ditanyakan
Bagaimana kondisi industri perbankan saat ini?
Mengapa pertumbuhan kredit masih single digit?
Segmen apa saja yang mengalami penurunan permintaan kredit?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Bank rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa industri perbankan berada pada posisi yang solid untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan. Namun secara realita, kredit kini masih tumbuh single digit.
Mengacu pada data November 2025, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kembali menguat hingga double digit sebesar 11,4 persen secara tahunan (YoY). Dengan loan to deposit ratio (LDR) terjaga di kisaran 8,4 persen.
BACA JUGA: BRI Hadirkan Cicil Emas di BRImo, Investasi Mulai 0,5 Gram dengan Cashback Menarik
BACA JUGA: Kisah Madinah Salma, Perempuan Difabel yang Bangun Brand Fashion Berdaya Saing bersama LinkUMKM BRI
Di saat yang sama, rasio kecukupan modal (CAR) tetap kuat dan berada di level 26 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Merujuk catatan itu, Hery menilai ruang ekspansi kredit masih memadai tanpa menimbulkan tekanan pada likuditas yang berlebihan.
Advertisement
"Buffer modal yang tebal ini memberikan daya tahan sekaligus ruang yang cukup untuk mendorong pertumbuhan kredit secara prudent dan berkelanjutan," ujar dia dalam webinar yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kamis (19/2/2026).
Namun demikian, Hery menyinggung pertumbuhan kredit secara year on year posisi Desember 2025 masih di angka single digit, walaupun tergolong naik dibanding sepanjang periode 2025.
"Data survei Bank Indonesia menunjukkan bahwa perlambatan kredit saat ini lebih dipengaruhi faktor demand," imbuh dia.
Turun di Hampir Semua Segmen
Perbesar
Merujuk data survei Bank Indonesia, permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen, terutama kredit konsumsi dari 62,9 persen menurun menjadi 13,4 persen, dan UMKM dari 78,4 persen menurun menjadi 58,8 persen.
Di sisi lain, kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) justru meningkat secara rata-rata sebesar 10,22 persen.
Situasi itu terjadi ketika bank dan likuiditasnya sudah tersedia, namun realisasi penarikan tertahan. Menurut Hery, situasi ini mencerminkan sikap wait and see dari dunia usaha dan juga rumah tangga sebagai nasabah individu.
"Jadi, tantangannya bukan pada supply dana, tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan. Yang dibutuhkan bukan sekedar likuiditas tambahan, tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan," tuturnya.
BRI
bank
DPK
Kredit
perbankan
Advertisement
Maulandy Rizky Bayu Kencana, Septian DenyTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan




